Kerasnya Pengharaman Riba (dalam Al Quran dan Hadits)

21.47

Tekanan utang

Allah subhanahu wa taala berfirman:

Orang-orang yang makan (mengambil) riba [1] tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila [2]. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu [3] (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah [4]. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa [5]. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. (QS Al Baqarah: 275–278)

Kalau haditsnya ada banyak, di antaranya:

1/1614. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah itu?” Beliau bersabda, “Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali dengan kebenaran, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari peperangan, dan menuduh berzina kepada perempuan-perempuan mukmin yang telah bersuami.” (Muttafaqun alaihi. HR Al Bukhari: 2766 dan Muslim: 89)

1/1615. Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melaknat orang yang memakan riba dan orang yang mewakilinya.” (HR Muslim: 1597 dan At Tirmidzi: 1206)
At Tirmidzi dan yang lainnya menambahkan, “Dan dua saksinya dan juru tulisnya.”

Sumber

  • Kitab Riyadhus Shalihin karya Imam An Nawawi rahimahullah.

Download aplikasi android Muhammad Zaini DI SINI

  1. Riba itu ada dua macam: nasiah dan fadhl. Riba nasiah ialah pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang meminjamkan. Riba fadhl ialah penukaran suatu barang dengan barang yang sejenis, tetapi lebih banyak jumlahnya karena orang yang menukarkan mensyaratkan demikian, seperti penukaran emas dengan emas, padi dengan padi, dan sebagainya. Riba yang dimaksud dalam ayat ini riba nasiah yang berlipat ganda yang umum terjadi dalam masyarakat Arab zaman jahiliyah.  ↩
  2. Maksudnya: orang yang mengambil riba tidak tenteram jiwanya seperti orang kemasukan syaitan.  ↩
  3. Riba yang sudah diambil (dipungut) sebelum turun ayat ini, boleh tidak dikembalikan.  ↩
  4. Yang dimaksud dengan memusnahkan riba ialah memusnahkan harta itu atau meniadakan berkahnya. Dan yang dimaksud dengan menyuburkan sedekah ialah memperkembangkan harta yang telah dikeluarkan sedekahnya atau melipat gandakan berkahnya.  ↩
  5. Maksudnya ialah orang-orang yang menghalalkan riba dan tetap melakukannya.  ↩

You Might Also Like

0 komentar

Back to top