Masih Adakah Harapan?

20.41


"Pak, aku sungguh nggak kuat lagi dengan segala tekanan ini." Aku terdiam beberapa saat, "aku ingin keluar saja, Pak." Kutundukkan kepalaku menatap tanah. Tak berani kulihat muka murkanya saat kukatakan padanya akan ketidaksiapanku menghadapi ujian tahfidz. Tubuhku gemetar, takut-takut kalau beliau akan memarahiku dengan sehebat-hebatnya. Ampun, Pak... Ampun...

"Nak, lihat mata Bapak," ucapnya perlahan-lahan. Aku bingung. Hah? Bapak nggak marah? Beneran nih? Dengan perlahan pula, kunaikkan pandanganku hingga bertatap pandang dengannya. Matanya syahdu. Tak ada sedikitpun rasa dongkol keluar dari matanya. Aku makin heran.

"Bapak nggak marah atas kenaifanku?"

"Tentu saja tidak, Nak. Bapak mana sih yang akan marah pada anaknya? Apalagi kalau dia tahu bahwa anaknya telah berjuang keras. Justru Bapak salut padamu, Nak. Karena masih berjuang menjemput harapan walaupun kau tahu harapan itu sudah tak tampak lagi dengan kondisimu yang sekarang, dengan kualitasmu yang sekarang. Berjuanglah, Nak! Seminggu itu bukanlah waktu yang sia-sia jika kau mau berusaha sungguh-sungguh menjemput harapanmu yang telah bosan menunggu gara-gara kau telah lama tertidur dalam kenyamanan. Berusahalah, Nak! Allah pasti menolongmu!"

Bapak, terima kasih karena kau masih percaya padaku di saat aku sudah tidak percaya pada diriku sendiri.

Jumat, 27 Desember 2013.
Malam yang syahdu di Kampung 2 Menara.
Detik-detik menanti ujian tahfidz.
... hari Kamis aku akan berjuang.
Allahu Akbar!!


Download aplikasi android Muhammad Zaini DI SINI

You Might Also Like

0 komentar

Back to top