Kisah Tentang Sebuah Impian

16.16


Ingat kan ketika dulu kita TK ditanyain sama bu guru:

"Anak-anak, nanti kalau besar mau jadi apa?"

"Dokter bu!"

"Polisi bu!"

"Tentara bu!"

"Kalau aku mau jadi polisi ganteng bu!" *eh

Itulah kita dengan masa kecil kita. Waktu itu kita masih bisa menghayal apapun yang kita inginkan. Menghayal jadi presiden lah, jadi power ranger lah, jadi robocop lah. Tapi, entah mengapa semakin dewasa, semakin umur, semakin pudar juga kepercayaan kita terhadap sebuah impian...
Apakah aku memiliki impian?
Di manakah impian-impian masa kecil kita? Di manakah semua cita-cita, harapan, keinginan besar seorang jenderal yang tertanam pada diri-diri kecil kita?

Mari kita renungkan kembali kawan...

Apakah semakin bertambahnya usia, semakin pula kita menjauh dari impian?

Download aplikasi android Muhammad Zaini DI SINI

You Might Also Like

7 komentar

  1. Dulu, waktu SD mungkin jarang pengen jadi apa. Saat SMP, pengen banget jadi pengoleksi buku. Saat SMA pengen jadi penulis. Kini, ketika sudah dewasa, bimbang dengan masa depan. Ah, kata guru saya, hidup akan terus berkembang tanpa perlu risau. Jalani saja dengan sungguh-sungguh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah setuju tuh sama "jalani saja dengan sungguh-sungguh"
      Biasanya mah orang ngomong "jalani aja kayak air mengalir" (pemikiran macam apa ini?)
      Dan kalau aku baca dari teori-teori perkembangan pakar-pakar psikologi, memang sih setiap tahap perkembangan akan terjadi perubahan-perubahan dalam pemikiran dan sikap.

      Hapus
  2. Tak mauuuu!!! *dekep kenceng buku catatan berisi daftar impian*

    Impian.
    Doa, semangat, usaha, & ilmu. Bagiku keempatnya tak bisa dipisahkan guna saling melengkapi dan mengingatkan di kala salah satu di antaranya sedang ada yg futur/surut dalam membangun impian.

    BalasHapus
  3. true hahaha semakin besar impian semakin memudar ya bang...

    BalasHapus
  4. Saya waktu kecil malah nggak punya impian.. hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh bang, nggak usah jujur2 amat :D

      Hapus

Back to top