Hari-Hari yang Telah Berlalu

00.26


Waktu terus bergulir tiada henti…
Jiwa semakin hari semakin sadar tentang tanggung jawabnya di bumi…
Jasad semakin rapuh dimakan masa…
Akankah kita menjadi sadar bahwa kematian senantiasa menanti kita?
Aku memiliki beberapa teman, plus beberapa orang yang aku akrab dengan mereka. Baik itu yang bertemu karena satu sekolahan, satu kampus, maupun yang ketemu di jalan langsung akrab mengobrol denganku. Mungkin itulah saat-saat terindah, ketika kita, sebagai manusia, terhubung dengan manusia lainnya. Otomatis, saat tersedih adalah ketika kita…
Berpisah…
Suatu hari, ketika kita sedang merasakan euforia liburan. Angin mendesir perlahan. Kepiting berlarian kecil ke kanan-kiri. Pohon kelapa berayun-ayun lunak. Kami menikmati indahnya pagi hari bersama sang mentari yang malu-malu menampakkan wajahnya yang bercahaya. Beberapa orang dari kami asyik bersenda gurau, bercanda. Ada beberapa yang asyik menggoda air-air asin seraya menyibak-nyibakkannya. Pagi yang sungguh sempurna.
Lalu terusik.
“Tolong! Tolong!”
Kami semua berlarian, melesat secepat yang kita bisa menuju teriakan tolong itu. Apa yang terjadi? Whats??? Salah seorang teman kami sedang berjuang mati-matian melawan ganasnya laut, timbul-tenggelam menyelamatkan nafas yang keluar tak beraturan. Kami cemas. Kami resah. Kami bingung. Kami tak tau apa yang harus kami lakukan! Salah seorang dari kami yang merasa mampu menolongnya, segera membenamkan dirinya ke ganasnya lautan itu. Mencoba menyelamatkan kawan kami yang malang itu segenap kekuatannya. Yang ditolong malah seperti ingin menenggelamkan sang penolong. Biasa, panik. Sang penolong sudah tak kuat lagi menahan nafasnya yang turut tersengal-sengal. Lantas kembali ke daratan.
Pagi itu, adalah hari terakhir baginya: Misuari.
Para wartawan kepo mulai berdatangan. Bertanya kepada kami segala hal yang aku yakin dia pun sudah tau jawabannya:
“Bisa dijelaskan kronologi kejadiannya?”
Ah, masak kau tak tau bagaimana urutan peristiwa tenggelamnya seseorang.
“Bagaimana perasaan Anda saat ini?”
Kau tak tau perasaan kami??? Batu!
“Apakah Anda akan tabah menerima peristiwa ini?”
Whats? Jangan tanyakan kami tentang itu! Biarlah air mata kami yang menjawabnya.
Lalu, datanglah sang penyelamat (yang katanya bernama tim SAR) yang berusaha menyelamatkan kawan kecil kami.
Ah, tapi sayang bapak sudah terlambat.
Aku waktu itu menjerit-jerit kepada bapak-bapak penyelamat itu untuk sesegera mungkin menemukan kawanku. Aku yakin dia masih hidup. Aku yakin dia bisa diselamatkan. Aku yakin kawanku bisa menahan nafasnya barang sejam hingga kami menemukannya.
Tapi nihil.
Aku tak bisa berharap banyak pada mereka.
Bapak-bapak itu meracau berbagai prosedur yang biasa mereka gunakan ketika menyelamatkan nyawa.
Ah, mereka pun takut mati.
Aku sudah tak peduli lagi waktu itu. Pokoknya temanku selamat! Hanya itu yang terlintas di pikiran kecilku.
Aku lupa bahwa setiap manusia pasti mati.
Aku lupa bahwa mati adalah awal kehidupan.
Aku lupa bahwa kehidupan setelah mati lebih “kejam” daripada saat ini. Kita tak bisa menyogok Sang Maha Kuasa supaya diberi kehidupan surgawi.
Aku lupa bahwa kita saat ini telah menyia-nyiakan banyak hal…
Menyia-nyiakan kehidupan tentram di surga…
Menyia-nyiakan kesempatan berbuat baik lebih banyak…
Menyia-nyiakan segala hal dalam kehidupanku…
Waktu itu aku tak nikmat menjalani kehidupanku. Hanya satu yang ada di benakku. Mati. Mati. Mati. Yah, itulah pikiranku, terlalu simpel. Hanya memikirkan satu kata. Tak lebih.
Duka.
Aku mengenal Misuari sebagai anak yang baik, kawan yang setia, sang penghapal Quran, berbakti kepada kedua orang tuanya. Umurnya ketika meninggal itu mungkin di bawahku 2 tahun. Sekitar 16 tahun.
16
16
16
Berapa umur kita saat ini? 20? 25? 40? 50?
Apakah kita masih ingat bahwa besok kita kan mati?
Ingatkah kita kalau besok kita kan bertemu Tuhan kita?
Atau jangan-jangan kita lupa dengan Tuhan?
Takut kalau dibilang SARA.
Takut kalau berbeda dengan “orang kebanyakan”.
Kalau orang kebanyakan masuk neraka, apakah kita juga ingin?
Apakah kehidupan dunia telah menipu kita?
Ingatkah kita kalau Nabi Adam berasal dari surga?
Ingatkah kita ketika Allah mengatakan:
يا أيها الإنسان إنك كادح إلى ربك كدحا فملاقيه
Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya. (QS. Al Insyiqaq: 6)
Sudahkah kita lupa bahwa speaker masjid selalu melantunkan:
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Telah berpulang ke rahmatullah, Fulan bin Fulan pada jam sekian…
Kapan kita kan dipanggil?
Oleh Allah dan oleh orang yang mengumumkan di speaker masjid tersebut?
Apakah kita merasa bahwa kita takkan mati?
Hidup selamanya?
Mari kita renungkan sejenak, kawan…
.
.
.
.
.
.
.
.
Buat jiwa-jiwa yang telah dipanggil oleh-Nya…
.
.
.
.
.
.
Kami (pasti) kan menyusulmu, kawan :putnam:


Download aplikasi android Muhammad Zaini DI SINI

You Might Also Like

0 komentar

Back to top