Disiplin? Kapan Mau Mulai?

07.16

Kerja keras
Setiap orang tentu saja ingin menjadi sukses, ingin menjadi seseorang yang bener-bener diperhitungkan oleh masyarakat sekitarnya, tidak hanya menjadi sebagai pemain pembantu saja, bahkan kalau bisa selalu ingin menjadi pemain utamanya, walaupun kita tau bahwa pemain utama biasanya hanya satu.
Itulah mengapa yang namanya persaingan adalah sesuatu yang pasti dalam kehidupan ini.
Nah, sekarang permasalahannya adalah:
  1. Apakah kita sudah yakin bahwa kita ingin menjadi pemain utama?
  2. Apakah kita sudah siap menerima konsekuensi yang bakal kita alami ketika kita memiliki ambisi menjadi pemain utama?
  3. Apakah kita sudah yakin bahwa kita benar-benar siap menjalankan berbagai konsekuensinya dengan segenap jiwa?
  4. Apakah kita siap memulainya SEKARANG?
Salah satu hal prinsipal untuk memenangkan persaingan yang penuh darah ini adalah dengan menumbuhkan rasa disiplin dalam diri kita. Apakah itu disiplin? Contohnya saja, habis Shalat Subuh jangan langsung tidur tetapi ngaji dulu. Atau, habis nggak ada kegiatan lagi di malam hari langsung tidur. Atau, ketika kita mendapatkan tugas, kita langsung mengerjakannya tanpa nunda-nunda lagi.
Kedengarannya susah ya?
Tapi ya memang begitu kalau menjadi orang yang the best. Kita harus tahan mental dulu. Kita harus melatih mental kita. Mentadrib semangat kita supaya kita senantiasa teguh walaupun angin begitu kencang menerpa.
Aku jadi keingat ketika aku pas di Mahad Isykarima. Yah, seperti kita tau lah Mahad Isykarima tu kayak gimana. Berat bro! Oke, mungkin itu yang aku alami, bisa saja teman-temanku yang lain berpikiran beda.
Kenapa hal itu begitu berat padaku?
Kurasa, karena aku belum begitu kuat menerima tekanan dalam segala sisi. Dari segi tahfidz, pelajaran IPA, OSIS, pecinta alam, ngajar TPA, dan lain-lain. Ya, mungkin aku kurang disiplin. Aku belum bisa seperti kawanku yang dari Padang itu yang bisa menghapalkan Al Quran dan memurajaahnya sampe tengah malam ketika kami sudah terlelap dalam mimpi-mimpi kita. Ya, aku masih ingat betapa malasnya aku dalam berjuang. Mungkin karena aku begitu sombong ketika membandingkan kemampuan otakku dengan kawanku yang lain.
Di akhir dari lembaran perjuangan di Isykarima itu adalah:
Ternyata otak sangat TIDAK berkaitan dengan kekuatan hapalan. Aku yang merasa cukup bisa saja, masih agak susah mempertahankan kekuatan hapalan ini dibandingkan dengan temanku yang dari Padang itu, orang biasa saja tapi karena dia rajin setiap hari, dia Ujian Akhir Tahfidznya SEMPURNA 30 juz!
Ah, benar kalau ada yang berkata hidup tak adil…
Hidup tak pernah adil pada orang-orang malas seperti kami…
Hidup selalu nepotisme kepada orang-orang yang berdisiplin, membayar proses kalau katanya Pak Ali…
Tapi, apakah aku akan senantiasa mengekangkan diri pada stagnasi ini?

Download aplikasi android Muhammad Zaini DI SINI

You Might Also Like

0 komentar

Back to top