Aku Selalu Bertanya Mengapa

07.36


Aku adalah Ichigo Rin, seorang mahasiswi dari Perguruan Tinggi Sastra ternama di daerahku (kalau di sini sebutannya prefektur). Tapi entah mengapa aku nggak pernah kepikiran sedikitpun untuk membuat cerpen.

Ya, aku memang aneh. Tapi, beginilah aku. Entah apa yang menjadikan motivasi bagiku untuk bisa masuk ke perguruan tinggi yang kayaknya kalau menurutku, aku nggak ada bakat di situ. Apakah karena ada orang yang menyebabkan aku di situ ya? Kayak...

***

“Rin.. Sssssttt... Rin-chan,” bisik seseorang di dekat telingaku. Kayak suaranya Chitanda Haru. Apa aku melamun lagi ya? Eh, memang iya. Tiba-tiba aja, wajah mengerikan Taiga-sensei sudah bertengger sangar menghapus segala mimpi indahku. “Gawat!”

“Rin... udah berapa kali ibu bilang, ‘Jangan tidur di kelas! Kamu tau nggak, betapa terkenalnya Perguruan Tinggi kita ini! Kamu tau nggak sih, nggak sembarang orang bisa masuk. Hanya orang-orang yang memiliki bakat tingkat tinggi sajalah yang bisa belajar di sini dan bisa mengembangkan skillnya di sini ke tingkat yang luar biasa! Kau tak tau ya, kita ini adalah bintang yang.... (bla bla bla bla... sudah malas dengerin)’”

Karena berusaha mengalah, aku langsung berdiri dan membungkukkan badan. “Gomennasai (maaf banget),” ujarku. Kulihat, ekspresi sangar Bu Taiga yang segera memudar dan langsung berganti poker face. “Ya sudahlah, jangan diulang lagi,” katanya datar sembari ke papan tulis lagi.

Hah, Bu Taiga nggak sadar ya, kalau aku sudah sangat bosan dengan sekolah yang katanya elit ini.

Kembali kusandarkan kepalaku yang udah bebal ini ke tangan mungilku. “Ah, sebenarnya masih menjadi misteri dalam kehidupanku, untuk apa aku di sini, apa ada sesuatu yang harus kuatasi ya, kayak semacam Quest gitu?” tanyaku dalam hati.

...Semuanya berjalan seperti biasa...

***

Bel sekolah berdentang. Semua pulang. Selain aku.

“Rin-chan, kamu nggak pulang?” tanya Haru.

“Nggak,” jawabku sekenanya.

“Terus, kamu ngapain mandangin jendela terus? Ada pikiran ya? Kok nggak cerita-cerita ke sahabat terbaikmu ini sih?”

Waduh, aku malah jadi nggak enak sama Haru. Aku nggak mau masalahku ini menjadi masalah bagi orang lain juga. Tapi, kalau Haru udah ngomong kayak gitu, biasanya dia bakal merasa bahwa aku ini sudah melukai hatinya. Yah, kok jadi rumit begini ceritanya? Ya sudahlah, aku akan menceritakan semuanya ke Haru. Kusuruh di duduk di sampingku kemudian aku mulai berkisah dengan lirih.

“Oh, jadi begitu ya... Jadi, kamu itu sebenarnya mahasiswi yang kurang.... Oops!”

“Sudah, Haru. Nggak usah tutup mulut gitu. Maksudmu, aku ini nggak punya bakat kan? Ya udah, itu memang fakta kan? Nggak usah malu-malu gitu deh ngungkapinnya.”

“Nggak. Nggak. Bukan. Bukan maksudku gitu. Aku nggak ada maksud melukai perasaanmu, Rin-chan. Aku ini kan udah lama jadi temanmu dan aku ini... (selanjutnya, bla bla bla... aku sudah tidak peduli dan kembali memandang langit biru temaram yang akhir-akhir ini menjadi sahabat terbaikku melebihi apapun)

“Rin-chan, kau masih mendengarkanku?” Ups, lagi-lagi aku kaget. “Rin, lain kali jangan melamun terus ya, aku khawatir.”

“Ah, udahlah nggak papa kok. Pulang yuk.”

...Aku nggak punya bakat...

***

Tahu kan rasanya jadi orang yang berbeda di komunitas? Rasa sakitnya tu di sini (mau nunjuk mana ya?). Apalagi di masyarakat komunitas seperti di Jepang ini, kesendirian bisa berarti dekat dengan bunuh diri. Yah, aku tentu saja bakalan menghindari hal itu. Apalagi aku kan muslimah. Sekarang ini Islam sudah 70% di Jepang. Sepertinya karena masyarakat di sini sudah bosan dengan kehidupan atheisnya yang malah membuat hampa hidupnya sehingga mereka berbondong-bondong masuk Islam. Ah, alhamdulillah saja lah.

Eh, sebentar, aku ini muslimah. Harga diri? Menggunakan jilbab? Perguruan Tinggi ternama? Nama baik? Eh, seakan-akan semua ini ada hubungannya ya? Apa benar aku berkuliah di Perguruan Tinggi Sastra itu hanya buat mengejar gengsi? Mengejar harga diri? Mencari nama? Ah, semua ini mengganggu pikiranku. Aku harus segera mencari tau kebenarannya. Walaupun kebenaran itu terkadang rasanya pahit, tapi aku tidak boleh terus menerus hidup dalam bayangan kebodohanku ini. Aku harus tau! Harus tau!

Maka, akupun berlari...

...I am on the way...

***

Tiba di rumah yang jarang dikunjungi, rumah keluarga Ichigo, keluarga besarku. Sudah lama aku tidak ke sini? Kapan ya, terakhir kali? Ah, sudah lupa. Tapi, seingatku, ayah telah melarangku untuk tidak ke sini. Tapi kenapa? Aku yakin sekali kenangan masa laluku ada di sini dan aku harus menjemputnya.

“Tadaima (aku pulang),” ujarku riang saat memasuki gerbang. Sebentar, rasanya kok berbeda ya. Ada rasa sakit yang tiba-tiba saja menyerang dadaku, menyerang kepalaku, pusing. Ah, kenapa?

Sekilas, terlihat wajah-wajah khawatir berlari ke arahku. Kakek, paman, bibi. Semuanya. Semuanya khawatir padaku. Apa ini masa laluku yang sebenarnya? Rasa sakit ini...

Semua menjadi gelap.

Mataku terpejam.

Telingaku terbuka.

Kudengar cercaan setiap orang yang menyerangku bertubi-tubi.

“Busuk!”

“Madesu!”

“Sastra tak punya masa depan!”

“Kamu hanya bakal merusak marga kita!”

“Sastra sudah terkubur dalam-dalam sejak bangsa kita mengenal teknologi. Untuk apa kamu mempelajarinya?”

“Eh, kamu, manusia yang tak punya masa depan...”

“TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK............”

Ayah langsung memelukku. Aroma rumah sakit langsung mengetuk saraf-saraf hidung mungilku. Wajah ayah terlihat khawatir. “Nak, kenapa kamu nggak mendengarkan kata-kata ayah? Ayah benar-benar khawatir? Jangan ke sana lagi ya, Nak..,” ungkap ayah dengan nada yang tak seperti biasanya, lebih lirih.

“Iya yah, Rin janji.” Kemudian, aku terdiam beberapa saat. “Jadi, Rin sebenarnya berbakat ya?”

“Benar sekali sayang. Memangnya, alasan ayah memasukkanmu ke sana untuk apa kalau nggak supaya malaikat kecil ayah bisa mengembangkan sayapnya lebih tinggi lagi?”

Ah, ayah, pintar membuat anaknya senang.

Oh iya, aku baru sadar, ayah kan sastrawan ternama di negeri ini. Ah, mungkin karena aku terlalu sering menyalahkan kehidupanku sehingga hatiku tertutup untuk menatap indahnya kehidupan ini.

...Aku telah membuka dunia baru...

***

Oke, cerpennya selesai. Semoga ini bisa membuktikan kalau aku memang dilahirkan buat jadi sastrawan.

...It’s about y(our) life...

Download aplikasi android Muhammad Zaini DI SINI

You Might Also Like

0 komentar

Back to top