Nggak Nyangka!

23.59



Sabrina duduk di depan komputernya. Setelah menyelesaikan PR untuk esok hari dan mempelajari ulang yang dipelajari di sekolah, sudah pantaslah rasanya kalau dia beristirahat sejenak. Tidak lama, pikirnya. Hanya untuk mengecek apakah ada message di facebook atau DM di twitter. Dia mematok waktu hanya sampai jam 11. Cukup setengah jam, karena esoknya dia harus fit untuk bersekolah kembali.

Di facebook, muncul kotak chat dari seseorang yang tak dikenalnya: Anonim.

Anonim:
"Halo."

Sabrina:
"Halo juga. Ini siapa ya?"

Anonim:

"Ntar juga tau."

Sabrina:
"O"
"Emang ada apa sih kok tiba-tiba ngechat aku?"

Anonim:
"Nggak ada apa-apa kok. Aku cuma penasaran ma kamu."

Sabrina:
"Penasaran? Kok bisa?"


Anonim:
"Ya... Soalnya kamu aneh :3"

Sabrina:
"-_-"

Anonim:
"Kamu itu... padahal di sekolah kamu, orang-orangnya pada nggak semangat belajar. Tapi kok kamu semangat banget belajarnya? Terus, kamu kok disiplin banget ngerjain sesuatu tepat pada waktunya dan berhenti tepat pada waktunya juga, contohnyha waktu main komputer. Kamu aneh 3:)"

Sabrina heran. Kok bisa-bisanya orang ini tau kalau dia lagi belajar? Kok, dia juga bisa tau kalau Sabrina menyelesaikan pelajarnnya tepat waktu? Kok, tau juga sih kalau dia buka facebook dan twitter tepat pada waktunya? Jangan-jangan orang ini hantu, lagi. Seperti di film-film horor yang pernah Sabrina tonton. Tubuhnya merinding. Dengan cemas, dia teramang seluruh ruangan dari posisinya. Jangan-jangan ada hantu, lagi. "Udah ah. Udah! Sabrina, itu hanya ilusi! Jangan cemas! Jangan cemas! Paling si Anonim ini cuma kepo!" katanya pada dirinya sendiri berusaha menenangkan.

Sabrina:
"Kok tau?"

Anonim:
"Ngasal :P"

Sabrina lega.

Anonim:
"Tapi kok, kamu bisa seperti itu sih?"

Sabrina mengetikkan alasannya. Baru kali ini dia mengetik dengan cepat dan semangat. Padahal, dia mengetiknya hanya dengan jari telunjuk. Udah gitu, dia juga jarang ngetik karena facebookan cuma pas waktu malam kayak gini. Cuma setengah jam! Entah, apa yang dirasakannya kok bisa mengetik dengan cepat.

Sabrina:

"Tentu saja karena aku nggak peduli apa yang dilihat oleh orang lain."
"Maksudku, mereka rajing atau nggak, aku tak bakal terpengaruh."
"Lagian kan, hidup kita hanya kita sendiri yang dapat memilih."
"Hidup itu pilihan, bung! Kalau teman kita mengajak kita kepada keburukan dan kita mengikutinya--entah terpaksa kah nggak--siapa coba yang rugi? Pasti kita sendiri, kan? Aku nggak mau hal itu terjadi padaku. Makanya, aku hanya akan melakukan hal-hal yang menurutku baik walaupun dianggap GILA oleh teman-temanku. Biarpun dianggap ANEH. Tapi, aku nggak peduli. Toh, di akherat nanti juga, kita bertanggung jawab atas amalan kita sendiri. Bahkan, orang yang kita cintai pun--yang katanya cintanya itu akan abadi biarpun maut berusaha memisahkan--tetap nggak akan bisa menolong kita. Semuanya itu mutlak di tangan kita!"

Anonim:
"Lagi orasi, ya? -_-"

"Kurang ajar!" pikir Sabrina.

Sabrina:
"Oh, sudah ya, aku mau istirahat. Sekarang udah jam 11. Bye :)"

Anonim:
"Eits, jangan dimatikan dulu konputernya."

Sabrina:
"Emang napa? :3"

Anonim:
"Coba kamu lihat jendela. Kali aja ada sesuatuyang menarik."

"Oke...," kata Sabrina. Dia beranjak dari komputernya dan berjalan menuju jendela. Alangkah terkejutnya dia. Seseorang yang dicintainya menanti di depan rumah dengan menenteng koper. "Kak Jack!" teriaknya.

Sabrina langsung memakai jilbabnya dan keluar menemui Jack, kakaknya. Betapa rindunya dia dengan kakakanya. Karena, sudah 4 tahun Kak Jack meninggalkannya bersama orang tuanya di rumah guna menuntut ilmu di Harvard University. Sabrina benar-benar nggak nyangka kakaknya akan datang. Tanpa pemberitahuan, lagi! Kok bisa, ya, kakaknya itu pulang sendiri? Padahal kan, Amerika dengan Spanyol beda negara. Entahlah, kakaknya itu memang seseorang yang pemberani.

Sabrina memeluk KIak Jack. Seluruh rindu dan kangennya, dia tumpah ruahkan pada saat itu. Makin lama, pelukannya makin kuat. "Kak Jack, aku kangen banget," katanya dalam hati.

"Sabrina, sudah dong. Badan kakak sakit semua nih."

"Eh sorry." Sabrina melepaskan pelukannya dan dengan sigap meraih tangan kiri kakaknya yang bebas dari koper. "Ayo kak, masuk. Akan Sabrina buatkan makanan kesukaan kakak, spageti Mexico."

Kak Jack tersenyum dan mengacak jilbab Sabrina. "Adikku yang cantik ini ternyata udah bisa masak, ya."

Sabrina balas tersenyum.

Download aplikasi android Muhammad Zaini DI SINI

You Might Also Like

0 komentar

Back to top