Ketabahan yang Luar Biasa

21.31


POV: Rudi

Ya Allah, perjalananku Jumat ini betul-betul melelahkan. Aku harus berjalan berkilo-kilo jauhnya menuju tempat favoritku, Elex Comic Center. Ah, hari ini sungguh melelahkan. Ingin sekali rasanya kurebahkan badan ini sesegera mungkin. Aku sudah penat!

Segera, kubanting badan ke kasur yang ada di tengah hujrah (kamar). Namun, serentetan suara mencercaku, "Hei Rudi, baru sore sudah mau tidur! Bangun woi! Main bola!"

Hah! Suara-suara menjengkelkan!

Segera, kubalut tubuh perkasaku dengan selimut tipis yang selalu bisa menghangatkan diri.

"Ah, payah! Belum malam udah tidur!"

Emang gue pikirin!

***

Kuterbangun untuk shalat Maghrib dan Isya lalu "mati" kembali.

***

Aaah... Ya Allah, pagi yang sangat segar. Aku sudah nggak sabar untuk segera shalat Subuh dan ngaji sebentar di masjid. Ya, sebenarnya sih, karena tunututan Ustadz, bukan motivasi sendiri sih. Hehehe.

Perlahan, kubangkitkan badan dan mataku.


Hah! Aku nggak salah lihat?! Kawan-kawan sudah pada persiapan sekolah semua! Waduh, emang jam berapa sekarang? Apa? Jam setengah delapan? Ya Allah, bisa gawat nih, sekolah dimulai setengah jam lagi sedangkan aku belum persiapan dan belum shalat pula! Ya Allah, masa shalat Subuh jam setengah delapan? Boleh nggak, ya? Boleh, nggak? Aku bingung nih...

"Hei Rudi, ngapain celingukan di situ? Kayak orang stress aja! Makanya, tidur jangan kelamaan dong! Sudah, sana persiapan sekolah!"

Hei, aku ini memang bingung tahu!

Waduh, gimana ni... Udah jam setengah delapan dan aku belum shalat Subuh. Shalat nggak, ya? Kalau aku nggak shalat, ntar aku jadi orang kafir dong, yang kekal dilahap neraka. Kalau shalat, yah, aku malu dong dilihat kawan-kawan. Apalagi, shalat jam segini sah apa nggak, ya? Bingung! Apa aku tanya Pak Ustadz aja ya? Ah, nggak mungkin lah. Udah jam segini, bro! Kalau aku kemana-mana, ntar pas balik, gerbong sakan (asrama) sudah dikunci. Mati dah aku.

Ya udah lah. Bismillah. Aku akan shalat biarpun harus menanggung malu. Daripada aku disiksa di neraka. Iiih. Ngeri bayanginnya.

Akhirnya, aku shalat.

Dan kawan-kawan mulai menggunjingku.

Hingga, shalatku nggak khusyuk.

Ya Allah, berilah aku ketabahan!

***

Plok. Seseorang menepuk pundakku ketika aku makan mie dengan lahap di maqsof (kantin). Siapa itu yang menepuk pundakku? Ah, ternyata Sugeng.

"Rud, aku salut ma kamu. Dengan ketabahan yang luar biasa, kamu berani menanggung malu demi menegakkan kewajiban agama. Keren. Keren." Dia mengacungkan dua jempolnya padaku. Hehe, jadi malu aku, "tapi kok..."

Ada apa, Geng? Kamu mendapatkan sesuatu yang salah dariku?

"Perasaan, shalatmu tadi nggak pake wudhu ya?"

Gubrak. Oh iya, aku baru sadar. Waduh, bisa-bisanya aku lupa!

"Lupa bro," jawabku.

Tawa pecah di antara kami.

Download aplikasi android Muhammad Zaini DI SINI

You Might Also Like

0 komentar

Back to top