I Have (only) One Plan!

11.03


5 hari sebelum ujian tahfiz[1]

“Ah, ide buruk siapa lagi ini yang menjadikan ujian tahfiz 5 juz sebagai syarat kenaikan kelas? Apa mereka ingin menggugurkan kita dari sekolah ini? Iya sih, aku tau ini adalah sekolah tahfiz, tapi jangan gini juga lah, memaksa kita supaya mati-matian mempersiapkan 5 juz yang akan disetorkan sekali duduk! Yakin dah aku, pasti banyak santri sekolah ini yang akan keluar!” Andre menumpahkan seluruh emosinya kepada kami yang duduk melingkarinya. Tampak dari wajahnya yang sangat merah bahwa dia sangat marah.

Kesunyian menghamburi majelis ngobrol itu. Semua santri terdiam, berusaha mencerna baik-baik perkataan Andre barusan. Mereka semua menahan mulut mereka untuk tidak berkata apa-apa. Sementara Andre, urat lehernya masih tampak tegang dan wajah merahnya masih tampak menyala.

Keheningan itu dipecah olehku yang tidak setuju dengan pernyataan Andre, “Andre, memang sih 5 juz dalam sekali duduk itu sangat berat. Tapi, apa sih salahnya kalau kita mencoba? Waktu kita masih 5 hari lagi! Waktu yang lumayan lama, bukan? Aku yakin kok, kalau kita berusaha sungguh-sungguh untuk mendapatkan 5 juz lancer, kita semua pasti naik kelas dan nggak ada lagi yang harus menanggung malu berada di kelas yang sama.” Tanganku bergerak-gerak sambil menjelaskan seakan-akan semangat perkataan ini mengalir lembut ke seluruh tubuh.

Angin sepoi mulai berhembus.

“Tapi Doni, cobalah kau berpikir, 5 juz itu susah ya! Apalagi kita terbiasa menyiapkan dalam sehari hanya seperempat juz untuk disetorin, kalau kita usaha mati-matian pun, nggak akan bisa mencapainya! Aku sangat tidak suka pada mereka yang baru saja membuat system konyol ini. Padahal kan, tahun lalu aja nggak seaneh ini ujiannya. Apa mereka ingin mengeliminasi angkatan kita? Benar-benar niat yang sangat buruk!” Kedua Alis Andre mulai terlihat seperti menyatu membentuk V, nada bicaranya pun semakin memuncak, membuat atmosfer taman memanas bagaikan lubang ozon yang semakin meluber.

“Stop Andre! Jangan katakan itu lagi! Kalau kamu mau tinggal kelas atau keluar, silahkan saja! Tapi aku tetap pada pendirianku, aku akan berusaha keras untuk bisa mengakhiri kutukan ini. Jadi…” aku merendahkan dan memelankan suaraku, “jangan ganggu aku lagi.”

Aku segera meninggalkan majelis itu karena sudah begitu panas buatku. Telingaku rasanya menguap seperti udara panas yang menyembur dari ceret yang mendidih. Sudah muak aku mendengar semua ocehan keputusasaan ini.

 ***

Masih 5 hari sebelum ujian tahfiz…

Aku menyetorkan pahaku di atas jurang –pojok luar asrama- yang menghadap langsung ke gunung lawu yang indah nan eksotis seraya berusaha menenangkan diri dan emosi serta menghilangkan kenangan-kenangan buruk saat mendengarkan ocehan keputusasaan tadi sekalugus mempersiapkan jiwa dan pikiran supaya siap bertarung dalam ujian 5 juz. “I know that I can!” Aku rentangkan tinjuku ke gunung lawu.

“Aku dalam sehari biasanya hanya bisa melancarkan seperempat juz. Apakah aku bisa sukses menyelesaikan ujian ini ya?” aku terdiam sejenak. “Tidak, tidak…” seraya menggelengkan kepala, “aku pasti bisa dan tidak akan termakan pemikiran keputusasaan itu!”

Suasana kembali sunyi. Pepohonan telanjang bergoyang-goyang diterpa angin sepoi yang menyejukkan. Gerombolan awan kapas berarak mengitari gungung lawu yang eksotis.

Ketenanganku terganggu ketika langkah seseorang mendekatiku.

Lalu, dia duduk di sampingku.

“Don, aku sangat nggak yakin bisa menyelesaikan ujian ini.” Andre berkata padaku dengan lirih.

Hei, bukannya tadi kamu sudah berkata begitu pada kami semua? Gara-gara perkataaanmu tadi, kami semua sukses dibuat putus asa olehmu! Apa kamu kali ini mau membuatku putus asa lagi? Apa kamu ingin menjatuhkan aku! batinku.

“Aku tu sebenarnya pengen masuk kedokteran,” ucapnya lirih, “tapi kan kalau misalkan aku nggak lulus ujian 5 juz ini, aku pasti gagal masuk kedokteran karena kelamaan membusuk di sini. Jadi, aku punya rencara B.”

“Apa rencanamu?”

“Aku akan keluar dari sekolah ini dan akan mengambil paket C.” Matanya menatap mentari dengan yakin.

“Kalau aku , nggak ada rencana B,” ungkapku dengan tegas.

“Hah, apa maksudmu? Kita itu harus punya rencana B. Kalau rencana A gagal, lalu mau diapakan kehidupan kita berikutnya? Apa kamu mau hidup terluntang-lantung dalam kebimbangan?” ucap Andre seraya menghempas-hempaskan kedua telapak tangannya.

“Memang, rencana A bisa gagal, tapi kalau aku hanya memikirkan rencana B, rencana A akan musnah.” Desir-desir angin membelai lembut tubuh kami.

Andre berdiri meninggalkanku.

 ***

Ujian tahfiz pun tiba…

Masjid sangat ramai hari ini, disesaki oleh kicauan-kicauan syahdu para santri yang senantiasa melancarkan hafalan mereka untuk ujian tahfiz 5 juz. Ada yang mati-matian melancarkan hafalannya namun ada pula yang tampak sangat santai seakan-akan kalu dia tidur pun ngigaunya bacaan Al-Quran. Aku duduk bersila di antara mereka.

Tampak di pojok masjid seorang santri sedang duduk termangu menatap angkasa. Aku menghampirinya. “Hei Andre, kamu mikirin apa?”

“Mmm…” Hening.

“Aku sudah mendaftar paket C, Don.” Bagai disambar gledeg, pikiranku kosong.

“Apa? Terus kamu nggak nyiapin untuk ujian tahfiz 5 juz?”

“Nggak. Aku pasrah.”

“Andre, biarpun masa-masa kita adalah masa SMA, masa remaja, kita berbeda dengan orang-orang di luar. Kita menghafal Al-Quran, kitab yang sangat mulia. Itu nilai plusnya. Jadi, kita nggak boleh menyerah begitu saja dan tetap terus menggenggam kitab ini dengan sangat erat. Jangan sampai kita putus di tengah jalan hanya gara-gara ujian 5 juz! Masih ada 10 juz lagi yang belum kita hafal!”

Andre mendesah. Aku meninggalkannya dalam kebimbangan dan kembali mempersiapkan ujian tahfiz.
Download aplikasi android Muhammad Zaini DI SINI


[1] Hafalan Al-Quran

You Might Also Like

0 komentar

Back to top