Dream

21.20


Bapak menatap mataku dalam-dalam. "Nak...," suaranya tertahan beberapa saat, "kalau kamu sudah lulus dari SMA, lulus dari perguruan tinggi, kamu mau jadi apa? Bapak harap cita-citamu bukanlah cita-cita picisan atau rendahan semisal jadi 'budak' bagi orang lain. Kalau gitu, apa cita-citamu?"

Aku masih terdiam, grogi memikirkan pertanyaan Bapak yang tiba-tiba. Maaf Pak, bukannya aku nggak punya cita-cita, tapi aku belum siap memikirkan dengan serius jadi apa aku nantinya. Aku masih terdiam.

Bapak yang pertanyaannya belum kujawab juga sepertinya masih sabar menunggu, dan pandangannya masih melekat erat di mataku. Aku makin grogi.

"Nak, segeralah kamu memikirkan masa depanmu. Pikirkanlah dengan serius. Apapun yang kau pikirkan hari ini, saat ini, pasti akan terjadi keesokan harinya." Bapak seperti bisa membaca pikiran ketidaksiapanku.

"Pak..." Aku mencoba berbicara, memecah segala kesunyian ini yang kian menyesakkan dada, "tentang masa depanku..." Aku masih mencoba merangkai kata, takut kata-kata yang keluar dari lisan kelu ini akan menyakitkan hatinya.

"Ya, Nak?" Bapak mulai tertarik.


"Aku..." Masih mikir, "pasti akan memberikan yang terbaik untuk Bapak!"

Bapak mendesah pelan.

Nak, tahukah kamu, cita-cita itu haruslah konkret. coba kita lihat tokoh-tokoh besar yang kini menjamah dunia. Siapa mereka dulunya? Apakah mereka hidup dalam kesenang-senangan? Apakah mereka nggak punya impian? Apakah kesuksesan mereka terjadi begitu saja? Nggak, Nak. Kesuksesan mereka saat ini pastilah berasal dari impian-impian mereka yang konkret. Makanya, kamu harus membuat impian yang konkret pula, bukan abstrak seperti yang kamu bilang barusan." Bapak mendesah lagi, lalu masuk rumah.

Meninggalkanku kebingungan di emperan rumah.

Lalu, kepada siapa aku harus bertanya saat ini?

Kepada batu?

Rumput?

Pasir?

Bintang?

Ya, kepada bintang. Aku yakin dia mau mendengarkan. Aku tahu setiap kelipnya menyimbolkan anggukan atas pilihanku dalam menentukan impian. Impian yang besar. Ya, aku harus membuat impian yang besar. Sangat besar. Impian jangka panjang yang tidak hanya untuk besok. Tapi juga untuk minggu depan, bulan depan, tahun depan, lima tahun mendatang, dua puluh tahun mendatang. Impian yang akan menjadi bunga episode petualanganku di atas waktu. Impian yang tidak hanya untuk sendiri, tapi juga untuk sesama.

... untuk sesama? Ya, aku harus membuat impian besar demi kesejahteraan bersama.

Kutatap bintang-bintang indah di langit yang gemerlapan seraya berkata, "Impian untuk sesama ya? Aku yakin aku bisa menemukannya! Aku yakin!"

***

Mengapa aku lebih memilih menciptakan impian untuk sesama dibandingkan impian untuk diriku sendiri? Tentu saja karena aku berpikir bahwa makhluk bernama manusia itu (ya, kita!) ternyata egois, selalu memikirkan yang terbaik UNTUK DIRINYA SENDIRI. Bahkan, untuk soal impian pun, kita masih memikirkan UNTUK DIRI SENDIRI. Tapi, kalau impian untuk kebaikan umat manusia itu apa ya? Aku masih bingung.

Download aplikasi android Muhammad Zaini DI SINI

You Might Also Like

0 komentar

Back to top